berfikir bagaimana cara berfikir

Sering terlihat wajah-wajah berkernyit, jidat yang mengerut. Terkadang mereka untuk tersenyum pun sepertinya sulit. Dan tidak terasa justru kita dan saya juga sering menjadi aktor dari dagelan yang berjudul: Kernyit dan Kerut di Pesta Jidat. Sebuah dagelan yang dari judul saja sudah tidak mampu menggugah selera, apalagi dipaksa harus dinikmati.

Berbicara cara berpikir, sah saja kita katakan kening mengerut sebagai bagian dari kegiatan tersebut. Namun, sepertinya tidak ‘halal’ kalau hal tersebut dipandang sebagai cara paling cerdas untuk menunjukkan “saya berpikir!” Terus? Entahlah saya juga bingung harus lanjutkan tema ini dengan apa lagi. Barangkali saya hanya ingin protes pada diri sendiri yang tidak bisa tersenyum saat sedang memikirkan sesuatu. Saya merasa belum cerdas jika untuk berpikir saja masih sulit untuk mengelola hal-hal lain pada tubuh saya saat sedang berpikir.

Selanjutnya, ada kecenderungan untuk marah dan marah saat sedang berpikir dan tidak kunjung bertemu dengan jawaban. Nah disini saya merasa lebih bijak untuk memarahi diri sendiri, kok bisa menikmati ketololan seperti itu?—maaf bahasa saya tidak halus kalau berbicara untuk diri sendiri—.

Sampai kemudian, saya memilih menyepi dan tidak mempedulikan apa-apa. Saya larut dengan pikiran sendiri. Untuk bicara saja saya berubah enggan. Dan ternyata memang sikap seperti iniyang sering saya lakukan, hingga tidak sedikit janji yang kemudian secara sengaja terlupakan, dan saya menjadi munafik karena telah menjadi figur seperti itu atas pilihan sendiri. Saya tidak hanya berdosa pada Tuhan saja, tetapi juga berdosa pada teman, sahabat, saudara dan semua yang pernah berinteraksi dengan saya. Oleh pengingkaran seperti itu, ternyata saya telah memilih untuk menjadi figur antagonis ditengah panggung drama hidup keseharian yang saya jalani.

Ah, ternyata proses terjadinya sebuah dosa terjadi secara sangat sistematis. Dosa sistematis? Tidak saya tidak akan membahas itu. Hanya yang terangsang bagi saya untuk membahas adalah apakah saya juga telah berpikir secara sistematis. Mengingat, intelektualitas belum bisa diakui ketika pada saat yang sama pikiran tersebut belum sistematis. Apalagi memang, sistematis tidak seseorang dalam berpikir menjadi indikator telah terintegral atau tidaknya pengetahuan yang telah pernah dimiliki oleh orang tersebut. Tentu saya juga berada didalam ketentuan demikian ini. Lagi, bagaimana cara berpikir?

Mengaitkannya dengan rumus ideal, saya termasuk salah seorang penganut konsep anti rumus dalam hal berpikir. Dalam arti, pola seseorang boleh berbeda dalam membentuk sebuah kerja pikiran. Karena hal ini juga tidak lepas dari latar pengalaman, darimana ia belajar, dan siapa saja yang berada di sekelilingnya. Intinya tidak ada pola baku pada mekanisme seperti apakah yang ideal untuk berpikir.

Cuma, yang masih saya yakini adalah tidak ada yang namanya berpikir yang tepat ketika seseorang tidak pernah secara rendah hati mengenal, bagaimana berpikir yang baik plus dampak dari sekian pemikiran yang telah pernah dihasilkan. Jika ingin arogan sedikit pada diri sendiri, menanggalkan keyakinan bahwa hari ini saya telah berpikir secara benar sebelum menemukan sebuah ketegasan dari apa yang telah pernah diperbuat. Oleh anda dan juga oleh saya disini. Maaf jika anda tidak menemukan kesimpulan apapun

3 responses to this post.

  1. Posted by rahmat waluyo on 8 Maret 2010 at 13:51

    pemikiran yang sangat dewasa..

    Balas

  2. Posted by nina nagano on 8 Maret 2010 at 14:15

    tulisan yang cukup menarik..penuh kedewasaan

    Balas

  3. ancha blink

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: