catatan seorang pecundang

ditulis di bawah jembatan layang menuju Matraman
dengan sebatang Samsoe dan beberapa lembar surat..

inspirasi: sebuah foto, beberapa lembar surat,sebuah lagu dan sebuah kenangan

Jakarta..
Matahari terik membakar kulit
Sama seperti hati dan pikiran yang sedang terbakar..

Di seberang berdiri toko “Kaca”
Bayanganku terpantul di sana..
Duduk sendiri sambil termangu, sesekali menghisap Samsoe dengan nikmat ..
Berusaha melepaskan kepenatan..
Awalnya, sang bayangan diam
Namun, tiba-tiba sang bayangan berdiri, melangkah keluar dari dalam cermin
Menghampiriku, menjulurkan lidah, dan tertawa mencemooh dengan kerasnya..
“Ha ha ha! Liat diri lo, malang.. Mana omong besar yang selama ini lo umbar? Mana diri lo yang selama ini lo bangga-banggain?

Mana kejayaan yang lo cari? Mana kejahatan yang lo rencanakan? Pecundang!”
Sang bayangan meludahiku, kemudian hilang..

Aku merasa muak, terjebak..
Terjebak pada situasi yang tanpa sadar telah aku ciptakan sendiri..
Sebuah situasi dimana aku mengharapkan adanya gelak tawa, senandung merdu dan kejayaan..
Tapi apa??
Aku sendirian di dalam keadaan itu. Terkunci.
Jalan setapak yang telah kurintis, membuyar..

Aku punya koin emas yang bernilai tinggi
Menurutku, nilainya tinggi.. tak perduli orang lain setuju atau tidak
Kubawa koin emas itu ke puncak gedung tertinggi di Jakarta
Ku letakkan ia disana agar ia tahu, seberapa aku menilai tinggi dirinya..
Namun hanya dalam hitungan detik, ketika ku palingkan muka..
Koin emasku hilang.
“Tolong! Ada yang mencuri koin emasku!”
Tapi ..  bagaimana kalau koin emas itu tidak dicuri?
Mungkin koin emas itu sengaja menjatuhkan dirinya ke bawah, ke dalam genggaman seorang laki-laki tua berbau tengik..
Atau mungkin, koin itu sengaja menggelinding mencari orang yang menurutnya lebih layak untuk menjadi pemiliknya?

Aku pecundang.
Kemanapun melangkah, kemanapun menoleh..
Kata itu selalu mengerling padaku
Melekat erat pada keningku
Aku seorang pecundang.
Yang dipecundangi dua kali oleh seorang pecundang
Jadi siapa yang benar-benar pecundang sekarang?
Siapa yang lebih pecundang?
AKU!

Aku berangan terlalu jauh, terlalu sempurna..
Aku lupa, bahwa aku hanya manusia yang memiliki keterbatasan
Ku letakkan pengharapanku di tempat yang terlalu tinggi, yang membuatku tidak dapat mengambilnya lagi..
Aku terlalu dibutakan oleh filosofi bawang
Bawang memiliki kulit yang berlapis-lapis
Tidak bisa melihat daging bawang hanya dengan sekali mengupas kulitnya
Diperlukan beberapa kali pengupasan .. yang kadang bisa membuat orang meneteskan airmata
Itu harga yang harus dibayar untuk melihat daging si bawang
Tapi dimana masalahnya?
Pada bawang yang ini aku juga mengupasnya berkali-kali.
Memang.
Memang kau mengupasnya berkali-kali,
Tapi kurang! Kau baru tiba pada lapisan ketiga, dan kau berhenti ..
Bodohnya, darimana kau tahu bahwa lapisan itu merupakan lapisan yang terakhir?
Darimana kau bisa yakin bahwa itu dagingnya?
Mungkin saja daging si bawang yang sesungguhnya masih jauh tersembunyi disana
Yah, aku terlanjur terbuai dengan keelokan bawang..

Tertipu..
Sebenarnya aku yang ditipu atau dia yang tertipu?
Tak ada niatan untuk menipu
Lalu kenapa berakhir dengan aku yang merasa ditipu?
Aku tertipu oleh keadaan, situasi dan kondisi yang semuanya serba MENIPU!
Aneh.
Awalnya semua begitu meyakinkan, begitu pasti dan mantap
Yah, tak heran aku menjadi pecundang
Lagi-lagi aku terbuai dengan begitu mudahnya
Semua yang terlihat mantap dan meyakinkan mulai bergoyang, bergeser dan berguncang mengerikan.. dan akhirnya hancur menjadi serpihan..
Tipu.

Perjalanan dari toko mainan yang penuh dengan miniatur pesawat menuju utara Jakarta seperti membuka pikiranku..
Membuat, membentuk dan mendatangkan sebuah pemikiran baru
Sebuah kesadaran yang menampar wajahku dengan kerasnya
Kemurungan setelah ditinggal pergi seorang teman baik menyempurnakan segalanya

Satu telah menjadi dua, dia berubah menjadi mereka..
Dua lebih kuat dari satu, pasti..
Sehingga satu yang lain tidak mungkin bisa melawan dua
Apalagi saat kondisi satu sedang terluka parah, sakit dan merasa tidak utuh
Satu tak mungkin kuat melakukannya sendiri

Aaaahhhh!! Bayangan-bayangan terus berkelebatan
Otak ini terasa bagaikan sebuah mesin pemutar piringan hitam yang sudah tua..
Lelah .. terus diputar, dipercepat, dihentikan, diulang lagi..
SAKIT!

Menjelang datangnya hari,
Warna-warna bedebah, jahanam dan keparat itu kembali meneror
Membuatku mau tidak mau memikirkan hal-hal tidak menyenangkan yang dibawa oleh warna-warna itu..
Sejuta peluang kegagalan terngiang di telinga

Dua sisi mata uang kembali merebak ke permukaan..
Kerelaan berbenturan dengan ego
Siapa yang lebih layak untuk bahagia?
Mereka yang sudah memiliki segalanya dan sudah nampak bahagia dari luarnya yang selalu mendapatkan apa yang mereka mau dengan cepat, atau…
Kalau satu bahagia, satunya akan terluka
Tidak adil.
Kenapa tidak bisa keduanya bahagia atau terluka pada saat yang bersamaan?
Ada ego yang berteriak minta didengar,
Ada ego yang yang harus diselamatkan,
Ada ego yang menyeruak,
Tapi ada ego yang harus dibunuh..
Lalu, ego apa ini?

Hujan turun..
Begitu deras disertai petir yang menyambar
Membawa bau tanah yang busuk yang bercampur dengan air hujan yang amis..
Mengiringi suasana hati yang menangis..
Badan begitu sakit, terbatuk hingga mengejang, wajah menjadi tirus, kaki mulai timpang, kulit berkeropeng, kehabisan darah, dan tulang mulai rapuh..
Diriku sudah tiba pada tingkatan yang paling rentan
Sehingga hanya dengan satu kali entakan saja.. HANCUR SUDAH!

Sampai kapan harus bersembunyi?
Di balik senyum yang mengembang, mata yang berbinar, dada yang membusung dan dagu yang terangkat?
Mau sampai kapan kau bersembunyi di balik kata yang sarat akan makna cinta dan hubungan darah?

Akulah hipokrat sejati..
Hipokrat yang sibuk menggembar-gemborkan upaya untuk memusnahkan para hipokrat yang lain
Hipokrat yang gemar menuding dan menunjuk
Sibuk membongkar aib orang lain, sementara aibku sendiri tersembunyi rapat-rapat di sudut saraf otak..
Akulah hipokrat..

Pandanganku teralih kepada dua anak jalanan yang berpakaian lusuh..
Walaupun dari luar keduanya kelihatan begitu susah, tapi tidak ada gurat-gurat keluhan di wajah mereka..
Mereka bisa tertawa dengan lepas..
Bermain dengan akrab di bawah air hujan
Bergulat dengan riangnya
Aku penasaran, bagaimana reaksi mereka kalau aku menyodorkan  sebuah  Tiramisu
Dengan kopi yang diimpor dari Italia, dicampur dengan Kahlua, diberi krim
mashcarvone yang diimpor dari Australia, ditaburi cokelat bubuk dan di garnish dengan chocolate sauce dan cinnamon stick.
Hmmmm..
Mungkinkah mereka akan melupakan keakraban yang mereka perlihatkan sekarang?
Mungkinkah rasa susah senang bersama, senasib sepenanggungan akan mereka buang hanya untuk berebutan sebuah Tiramisu?

Ego.
Kembali berujung pada ego
Status,stigma dan pandangan orang.. kenapa semuanya harus menjadi sesuatu yang sangat signifikan?

6 responses to this post.

  1. Posted by RISMA on 26 Januari 2010 at 20:15

    yaNg kaMu maKsuD Koin Emas iTU yoUr Bii kaN???

    Balas

  2. Posted by 030509 on 27 Januari 2010 at 00:03

    Kehilangan tmn baik emang nyakitin bgt.
    Tp andai sang teman masih ada skrg,ia pasti mau kau perbaiki semua.
    Merasa menjadi seorang hipokrat bukan akhir dari segala.
    pencarian diri sudah hampir selesai,hentakan sakit akan segera usai.
    Tak usah kau hiraukan si koin emas.
    begitu bny batu permata yg telah Tuhan siapkan utkmu..
    Semoga kau selalu dalam lindunganNya.amin

    Balas

  3. Posted by 030509 on 27 Januari 2010 at 00:42

    Kehilangan teman baik yang menjadi guru sekaligus teman pasti menyakitkan.
    dan andai sang teman masih ada,beliau akan menyodorkan tangannya yg renta untuk membantu mu bangkit dan perbaiki semua.
    Merasa menjadi hipokrat bukan akhir dari segala.
    Pencarian diri hampir usai dan hentakan sakit akan segera usai.
    Tak perlu hiraukan si koin emas.
    Tuhan akan menggantikannya dengan logam yg lebih mulia.
    doa dari sang teman baik akan selalu bersamamu.

    Balas

  4. Posted by Laura on 27 Januari 2010 at 03:37

    Hmmmm..
    Tulisan yg sangat realistis.pngungkapan jiwa yg bnr2 menyentuh.
    Pnuh ptanyaan dlm membaca ini..
    Apakah hipokrat yg dmksd ini tengah mengeluh,mncoba mrelakan,marah atau apa?

    Balas

  5. Posted by LienA on 10 Februari 2010 at 22:46

    kEREn Liv..bNyk hikMah en pEmbeLajaRan yg bsA aku aMbiL..bhkN “bWang” haL yg kt aNgGp sEpELe..
    v aku yakiN kMu bukN pEcuNdang..
    kM oRg yg pNyA “aLRm” yg sLalu ad d sAat aku ngLmin kndsi “gaWat”
    thX bt sMua nasEhat’y
    bLh taU apA mksuD km dgN “koiN eMas”

    Balas

  6. Posted by Anonim on 5 Januari 2013 at 18:58

    hipokrat itu apa?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: