kumpulan wallpaper tokoh indonesia ( keren )

Gus Dur


link

BIOGRAFI
Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur menjabat Presiden RI ke-4 mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkimpoiannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari .

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu beliau juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkimpoiannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang. (Dari Berbagai Sumber)

Warkop


link

BIOGRAFI
Warkop Prambors biasa ngetop dengan nama Trio DKI adalah grup lawak yang dibentuk oleh Nanu Mulyono, Rudy Badil, Wahyu Sardono, Kasino Hadiwibowo dan Indrojoyo Kusumonegoro, lima mahasiswa Universitas Indonesia, Jakarta.

Mereka pertama kali meraih kesuksesan lewat acara Warkop yang merupakan singkatan dari “Warung Kopi” di radio Prambors. Acara lawakan setiap jum’at malam antara jam 20.30 s/d jam 21.15, disiarkan Radio Prambors yang bermarkas di kawasan Mendut, Prambanan, Borobudur, alias “Menteng pinggir.”

Dalam acara itu, Rudi Badil sering berperan sebagai Mr. James dan Bang Cholil. Indro yang berasal dari Purbalingga berperan sebagai Mastowi (Tegal), Ubai (Ansori). Kasino yang asli Gombong perannya bermacam-macam, kadang berperan sebagai Mas Bei, Acing/Acong (Cina) dan Buyung (Padang). Nanu yang asli Madiun sering berperan sebagai Tulo (Batak). Dono sendiri hanya berperan sebagai Mas Slamet.

Ide awal obrolan Warkop Prambors berawal dari dedengkot Radio Prambors, Timmy Lesanpura. Radio Prambors meminta Hariman Siregar, dedengkot mahasiswa UI untuk mengisi acara di Prambors. Hariman pun menunjuk Kasino dan Nanu, sang pelawak di kalangan kampus UI untuk mengisi acara ini. Ide ini pun segera didukung oleh Kasino, Nanu dan Rudy Badil, lalu disusul oleh Dono dan Indro.

Pertama kali Warkop muncul di pesta perpisahan (kalau sekarang prom nite) SMP IX yang diadakan di Hotel Indonesia. Semua personil gemetar, alias demam panggung, dan hasilnya hanya bisa dibilang lumayan saja, tidak terlalu sukses. Namun peristiwa di tahun 1976 itulah pertama kali Warkop menerima honor yang berupa uang transport sebesar 20.000. uang itu dirasakan para personil Warkop besar sekali, namun toh habis untuk traktir makan teman-teman mereka. Berikutnya mereka manggung di Tropicana, sebelum manggung, kembali seluruh personel komat-kamit dan panas dingin, tapi nyatanya hasilnya kembali lumayan.

Baru pada acara Terminal Musikal (asuhan Mus Mualim), grup Warkop Prambors baru benar-benar ‘lahir’ sebagai bintang baru dalam dunia lawak indonesia. Acara Terminal Musikal sendiri tak hanya melahirkan Warkop tapi juga membantu memperkenalkan grup PSP (Pancaran Sinar Petromaks), yang bertetangga dengan Warkop. Sejak itulah honor mereka mulai meroket, sekitar 1 juta per pertunjukan atau dibagi empat orang, seorang pas kebagian ‘no pek go ceng’.

Mereka juga jadi dikenal lewat nama Dono-Kasino-Indro atau DKI (yang merupakan pelesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota). Ini karena nama mereka sebelumnya Warkop Prambors memiliki konsekuensi tersendiri. Selama mereka memakai nama Warkop Prambors, maka mereka harus mengirim ‘upeti’ kepada radio Prambors sebagai pemilik nama Prambors. Maka itu kemudian mereka mengganti nama menjadi Warkop DKI, untuk menghentikan praktek ‘upeti’ itu.

Setelah puas manggung dan ngobrol di udara, Warkop mulai membuat film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat. Melalui film, personil Warkop mulai meraup kekayaan berlimpah. Dengan honor 15 juta per-satu film untuk satu grup, maka mereka pun kebanjiran duit, karena hampir tiap tahun mereka membintangi satu film di dekade 80-an. Malah beberapa tahun ada dua film Warkop sekaligus.

Kebanyakan film Warkop memang tidak dapat diedarkan secara internasional karena masalah pelanggaran hak cipta, yaitu digunakannya musik oleh komposer Henry Mancini tanpa ijin atau mencantumkan namanya dalam film. Beberapa film yang beredar di antaranya Mana Tahaaan… (1979), Gengsi Doong (1980), Pintar Pintar Bodoh (1980), Ge-Er (1980), Manusia 6.000.000 Dollar (1981), IQ Jongkok (1981), Setan Kredit (1981), Dongkrak Antik (1982), Chips (1982), Maju Kena Mundur Kena (1983), Itu Bisa Diatur (1984), Tahu Diri Dong (1986), Kesempatan Dalam Kesempitan, Gantian Dong Parkit, Pokoknya Beres, Jodoh Boleh Diatur, Atas Boleh Bawah Boleh (1986), Sama Juga Bohong (1986), Salah Masuk (1994), Pencet Sana Pencet Sini (1996), Saya Suka Kamu Punya, Mana Bisa Tahan, Lupa Aturan Main, Sabar Dulu Doong…!, Malu-malu Mau, Makin Lama Makin Asik, Sudah Pasti Tahan, Bagi-Bagi Dong, Godain Kita Dong, Saya Duluan Dong, Bisa Naik Bisa Turun, Bebas Aturan Main.

Dalam era televisi swasta dan menurunnya jumlah produksi film, DKI pun lantas memulai serial televisi sendiri. Serial ini tetap dipertahankan selama beberapa lama.

Hingga saat ini personil Warkop yang masih ada hanya Indro. Kasino meninggal pada tahun 1997, sedangkan Dono menyusul pada tahun 2001. Indro sendiri sekarang telah mendirikan sebuah Persatuan Artis dan Pelawak Indonesia (PASKI). Di mana ia menjadi ketuanya

Iwan Fals


link

BIOGRAFI
Sekilas Iwan Fals
Iwan Fals yang bernama asli Virgiawan Listanto adalah seorang legenda hidup Indonesia.

Lewat lagu-lagunya, ia memotret kehidupan dan sosial-budaya di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum ‘akar rumput’. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang Oi dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Perjalanan Hidup
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.

Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen.

Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.

Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.

Keluarga
Iwan lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dari pasangan Haryoso (ayah)(almarhum) dan Lies (ibu). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.

Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.

Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini , yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).

Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.

Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktifitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung Bogor Jawa Barat sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.

Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.

Mohammad Hatta


link

BIOGRAFI
Drs. Mohammad Hatta (lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902 – Jakarta, 14 Maret 1980)atau biasa dipanggil Bung Hatta, menjadi Menteri Luar Negeri pada periode 20 Desember 1949 – 6 September 1950.

Beliau menempuh pendidikannya di ELS (Europese Lagere School) Bukit Tinggi, pada tahun 1916. Kemudian melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer UItgebreid Lagere Ondewijs) di kota Padang pada tahun 1919. Setelah lulus dari MULO, Bung Hatta bersekolah di Sekolah Menengah Dagang yang bertempat di Batavia, sekarang bernama Jakarta, pada tahun 1921. Lulus dari Sekolah Menengah Dagang, Beliau meneruskan pendidikannya di Sekolah Tinggi Ekonomi (Handels Hoge School) di Rotterdam, Belanda.

Bung Hatta muda aktif dalam organisasi sejak di MULO, mula-mula dalam perkumpulan sepak bola sekolahnya, kemudian dalam Jong Sumatranen Bond (perkumpulan pemuda) di kota Padang. Keaktifannya dalam berorganisasi diteruskan pada waktu kuliahnya di negeri Belanda, salah satunya beliau pernah menjabat sebagai ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, beliau memproklamasikan Indonesia Merdeka bersama Ir. Soekarno dan menjabat sebagai Wakil Presiden RI pertama. Beliau aktif dalam memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia di luar negeri antara lain memimpin delegasi Indonesia ke Konferensi Meja Bundar di Den Haag , pada bulan Agustus – November 1949 sekaligus menerima penyerahan Kedaulatan RI dari pemerintah Belanda yang diwakili, Ratu Juliana pada tanggal 27 Desember 1949.

Selain aktif dalam bidang politik, Bung Hatta juga aktif dalam bidang ekonomi. Keaktifannya memajukan perekonomian rakyat melalui koperasi membuat beliau dijuluki sebagai “Bapak Koperasi Indonesia”.

Bung Hatta meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Bersama Ir. Soekarno, Bung Hatta diberi gelar sebagai Pahlawan Proklamasi.

Hoegeng Imam Santoso


link

BIOGRAFI
Siapalah di negeri ini yang tak kenal banyolan maut Gus Dur soal polisi: “Hanya ada tiga polisi yang jujur di Indonesia yaitu, polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng..” begitu sabda kyai nyeleneh itu.

Di tengah citra negatif pejabat polisi dan pejabat negara, nama (Alm) Hoegeng Imam Santoso menjadi legenda rakyat. Mantan Kepala Polri di era tahun 1968-1971 ini dikenang sebagai sosok polisi yang “keterlaluan” jujurnya, sederhana, dan berdedikasi tinggi.

Suatu cerita yang sering dikisahkan orang adalah soal kebiasaan Hoegeng—saat menjabat Kapolri–ikut-ikutan mengatur lalu lintas ketika laju kendaraan di jalanan agak tersendat. Tak terbayang betapa salah tingkahnya para anak buahnya ketika Pak Hoegeng beraksi. Salah satu anaknya, Reni mengaku sempat kerap terlambat ke sekolah karena ”kebiasaan buruk” ayahnya yang tiba-tiba turun di tengah jalan untuk mengatur lalu lintas.

Kisah lain yang juga mengharukan adalah betapa kuatnya mental Hoegeng menolak segala macam pemberian orang kepadanya. Jangankan “main 86” (“mendamaikan” suatu perkara dengan tarif tertentu), bagi pria kelahiran Pekalongan itu, hadiah-hadian “tanda kasih” dari siapapun akan ditolaknya mentah-mentah dan mungkin hanya membuat frustrasi pemberinya.

Bahkan, suatu saat Hoegeng dengan ”tega”nya pernah mengeluarkan perabot mewah pemberian orang di dalam rumah dinasnya–yang baru akan ditempatinya—dan meletakkannya di pinggir jalan begitu saja. Dia sendiri tak tahu siapa yang menghadiahinya berbagai perabot itu. Ketika itu dia dan keluarganya baru pindah ke Medan dan baru menjabat sebagai Kepala Direktorat Reserse Kriminal Polda Sumatra Utara tahun 1956. Hoegeng bersikeras hanya mau menempati rumah dinas itu hanya dengan perabot inventaris kantor (Polri).

Istri Hoegeng, Merry Roeslani, tentunya adalah istri pejabat yang paling tentram usai sang suami pensiun. Merry dan ketiga anaknya yaitu Aditya, Reni, dan Ayu, tak perlu dag-dig-dug ayahnya diusik perkara korupsi usai pensiun, seperti yang banyak menimpa pensiunan pejabat negara belakangan ini. Sebaliknya, kemana pun Merry dan ketiga anaknya pergi, rakyat akan selalu mencium harumnya reputasi Hoegeng pada kehadiran mereka…

Riri Riza & Mira Lesmana


link

BIOGRAFI
Riri Riza
Waktu masih SMA, Riri Riza lebih dikenal sebagai anak band. Itu lantaran sejak SMP ia memang punya hobi bermain musik. Makanya, selulusnya dari SMA, Riri kemudian berkeinginan melanjutkan kuliah di Jurusan Musik Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tapi entah kenapa, “Begitu tahu di sana ada jurusan film, saya malah lebih tertarik untuk memasukinya,” tutur Riri, yang juga punya hobi fotografi itu.

Ketertarikan Riri terhadap dunia film bukan tanpa alasan. Sejak kecil, boleh dibilang ia sudah akrab dengan hal-hal berbau film. Ayahnya, seorang pejabat di Departemen Penerangan di era Orde Baru, sering mengajaknya ke pelosok-pelosok daerah untuk memutar film pembangunan. Menurut pria berkacamata minus itu, keliling pelosok tersebut menjadi hiburannya ketika ia anak-anak.

Ya, pilihan Riri rupanya tak meleset. Berkat ketekunannya dalam belajar, ia tercatat sebagai mahasiswa paling menonjol di kampusnya. Riri juga menjadi lulusan terbaik IKJ untuk angkatannya. Selain itu, berkat ketekunannya pula, sejumlah prestasi di bidang film diraihnya. Film perdananya (setelah ia lulus dari IKJ) “Sonata Kampung Bata” memenangkan suatu penghargaan dalam Festival Film di Jerman.

Atas prestasinya itu, Riri diundang ke Jerman. Dan itu sekaligus menjadi pengalaman pertamanya jalan-jalan ke luar negeri. “Ayah saya senang sekali. Dan saking senangnya, ia sampai ikut membantu membuatkan paspor dan visa segala,” kenangnya. “Pokoknya, waktu itu suasananya dramatis sekali. Bayangkan, ayah saya belum pernah membawa saya ke luar negeri, tiba-tiba saya diundang ke Jerman,” tambahnya.

Sepulangnya dari Jerman, debut Riri dalam dunia sinematografi seolah tak terbendung. Ia terlibat dalam pembuatan sejumlah film — baik film pendek, film dokumenter, film televisi, sinetron, ataupun film layar lebar. Sebut saja, Siulan Bambu Toraja (film dokumenter), Buku Catatanku (film televisi), Kupu-Kupu Ungu, episode Emilia dan AIDS (sinetron), Kuldesak, Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta, dan Eliana, Eliana (film layar lebar).

Hebatnya lagi, di antara film-film itu Riri juga sempat bertindak sebagai sutradara, penulis skenario, dan produser. Meski begitu, ia lebih tertarik untuk berkonsentrasi di bidang penulisan skenario. Itu pula yang didalaminya ketika ia mendapat beasiswa untuk kuliah program master di Inggris. Kutu buku dan penggemar berat nonton film itu mengambil bidang penulisan skenario film di Royal Holloway University, London, pada 2001.

Yang jelas, dunia film kini telah menjadi pilihan hidupnya. Bagi Riri, dunia film bukan cuma sekadar ajang mencari sesuap nasi — tapi alat perjuangan. Lewat film, pria bertampang baby face itu ingin mengangkat persoalan hidup yang berkembang di masyarakat, sehingga masyarakat akan terbuka mata hatinya. Ya, sebuah cita-cita yang tak bisa dibilang sederhana.

Lantas apa obsesinya? Untuk jangka panjang, Riri ingin membuka sekolah penulisan skenario film. Dan untuk jangka pendeknya, ia ingin membuat film tentang kehidupan pasar tradisional di Indonesia. “Di pasar itu kita bisa melihat karakter manusia yang sebenarnya,” katanya. “Barangkali, di sanalah tempat hidup yang sesunguhnya,” tambah pria yang punya hobi mengisi waktu luangnya dengan jalan-jalan ke pasar tradisional itu.

Mira Lesmana
Mira Lesmanawati (lahir di Jakarta, 8 Agustus 1964; umur 44 tahun) adalah salah seorang produser film asal Indonesia yang paling berhasil pada tahun 2000-an, yang merupakan anak dari tokoh jazz Indonesia, Jack Lesmana dan penyanyi senior Indonesia di tahun 60-an Nien Lesmana.

Lulusan Institut Kesenian Jakarta yang dikenal sebagai produser bertangan dingin ini memulai karirnya di perusahaan periklanan. Pada tahun 1996 dia mendirikan Miles Productions, yang kemudian memproduksi beberapa film-film sukses seperti Ada Apa Dengan Cinta dan Petualangan Sherina serta Laskar Pelangi. Mira adalah kakak dari musisi Indra Lesmana. Mira menikah dengan Mathias Muchus.

Baharuddin Lopa


link

BIOGRAFI
Dalam usia 25, Baharuddin Lopa sudah menjadi bupati di Majene, Sulawesi Selatan. Sarjana Hukum lulusan Universitas Hasanuddin, Ujungpandang (1962) ini aktif dalam memberantas penyelewengan. Lopa pernah menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Tenggara, Aceh, Kalimantan Barat, dan mengepalai Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta. Pada tahun 1982, Lopa pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan memperoleh gelar doktor hukum laut dari Universitas Diponegoro, Semarang, dengan disertasi Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan yang Digali dari Bumi Indonesia di tahun yang sama.

Ketika diangkat menjadi Kajati Sulawesi Selatan, Lopa membuat pengumuman di surat kabar, ia meminta masyarakat atau siapa pun tidak memberi sogokan kepada anak buahnya. Ia menangani kasus korupsi di bidang reboisasi senilai Rp. 7 milyar. Lopa juga berhasil menangani kasus seorang pengusaha besar, Tony Gozal alias Go Tiong Kien hingga ke pengadilan dengan tuduhan manipulasi dana sebesar Rp 2 milyar. Padahal, sebelumnya, Tony adalah orang yang “kebal hukum” karena hubungannya dengan beberapa pejabat.

Ketua Pengadilan Negeri Ujung Pandang akhirnya membebaskan Tony dari segala tuntutan. Lopa mencoba mengusut latar belakang vonis bebas hakim tersebut dan hasilnya, ia menemukan petunjuk bahwa vonis tersebut karena aliran dana dari sebuah perusahaan Tony. Namun sebelum persoalan itu tuntas, Januari 1986, Lopa dialih tugaskan menjadi Staf Ahli Menteri Kehakiman Bidang Perundang-undangan di Jakarta.

11 responses to this post.

  1. Posted by Ulil Albab on 15 September 2009 at 13:50

    nice, spirit n hot wallpapers. .

    Balas

  2. Posted by jimmy on 2 Januari 2010 at 09:48

    gw suka banget khususnya gusdur dan hoegeng

    Balas

  3. Posted by wiwin on 5 Januari 2010 at 12:47

    Bang Iwan Fals inspirasiku

    Balas

  4. Posted by isman sawabi on 6 Januari 2010 at 18:01

    I LOVE YOU GUS….

    Balas

  5. baharudin lopa dan hoegeng is my spirit……………

    Balas

  6. Posted by ryo on 5 Maret 2010 at 19:29

    my people

    Balas

  7. bang H.iwan fals adlh motifasi ku

    Balas

  8. WAH…………….KEREN BANGET!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    TOKOH SEPANJANG MASA…………..

    Balas

  9. Posted by esa on 5 Oktober 2012 at 13:47

    wah keren banget karyanya semoga bisa bermanfaat lebih jauh untuk indonesia..
    minta bung karno adakah?

    Balas

  10. Posted by Anonim on 2 Juni 2013 at 22:39

    iwan fals tetap di hati

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: